Tempat Aman Terakhir bagi Spesies yang Terancam Punah



Tanaman dan binatang semakin terancam di seluruh dunia. Beberapa ilmuwan memperkirakan bahwa ribuan spesies punah setiap tahun. Untunglah, deretan pegunungan menjadi tempat berlindung bagi tanaman serta binatang yang dulunya hidup di daerah yang subur dan luas. Namun, sekalipun di tempat yang aman ini, polusi dan perusakan lingkungan oleh manusia menjadi ancaman. Mungkin tidak ada bukti yang lebih nyata tentang hal ini daripada di Eropa, salah satu tempat terpadat di planet ini.


Di Pyrenees, pegunungan yang memisahkan Perancis dan Spanyol, beberapa taman nasional menjadi perlindungan bagi flora dan fauna setempat. Di wilayah yang dilindungi ini, para pengunjung mendapat kesempatan untuk melihat tempat aman terakhir bagi banyak spesies yang terancam punah. Mari kita lihat sekilas apa saja yang ada di taman ini.



Spesies yang Berjuang untuk Hidup

Bunga. Beberapa bunga liar yang sangat indah tumbuh pada ketinggian di atas 1.500 meter. Gentiana salju dan gentiana terompet (1), dengan daun mahkotanya yang biru terang, menutupi daerah lereng yang tidak berpohon. Semakin jauh menuruni lereng, di antara pohon-pohon pasang, terdapat sebuah hutan kecil anggrek cypripedium calceolus (2) yang hampir punah masih tumbuh subur. Setiap tahun, ratusan pecinta alam berkunjung ke hutan kecil ini, sehingga pengurus perhutanan di sana menempatkan penjaga yang bertugas 14 jam sehari untuk memastikan agar bunga-bunga yang berharga itu tidak dirusak atau dicabut.


Kupu-kupu. Padang rumput alpin yang belum terusik dan penuh dengan bunga liar menjadi tempat berlindung bagi kupu-kupu yang beraneka warna. Kupu-kupu Apollo (3), yang besar dengan bintik-bintik merah menyala pada sayapnya terbang ke sana kemari di antara rumput berduri. Bunga-bunga yang lebih kecil sering dihinggapi kupu-kupu biru dan kupu-kupu tembaga (4) dari famili Lycaenidae. Kupu-kupu Vanessa cardui dan aglais urticae dengan lincah terbang ke lereng yang lebih tinggi.


Binatang. Banyak binatang mamalia besar di Eropa pernah berkelana di daerah yang sangat luas di benua itu. Akan tetapi, beberapa di antaranya diburu sampai hampir punah. Serigala, beruang, links (5), bison, kijang gunung, dan kambing gunung (6) kini bertahan hidup hanya di beberapa pegunungan atau di daerah yang jauh di utara. Binatang-binatang yang luar biasa di cagar alam taman nasional Pyrenees dengan jelas mengingatkan bahwa dulunya ada banyak satwa liar di pegunungan ini. Beberapa pengunjung dengan prihatin bertanya-tanya tentang masa depan binatang liar yang hampir punah ini.




Category: 2 komentar

Misteri Besar di Bidang Ilmiah Terkuak




Kala para penyelam menyelidiki sebuah bangkai kapal yang karam dekat Pulau Antikythera di Yunani pada tahun 1901, mereka menemukan harta karun. Ternyata, itu adalah kapal dagang Romawi kuno yang mengangkut, antara lain, patung-patung marmer dan perunggu serta koin-koin perak dari Pergamus. Berdasarkan koin-koin tersebut, para peneliti memperkirakan bahwa kapal itu, yang mungkin sedang menuju Roma, tenggelam antara tahun 85 dan 60 SM.


Sejak ditemukan, artefak-artefak tersebut disimpan di Museum Arkeologi Nasional Athena, Yunani. Akan tetapi, yang membuat para peneliti berdatangan ke museum itu pada tahun 2005 bukanlah patung-patung atau koin tersebut. Perhatian mereka tertuju pada sebuah piranti perunggu yang semula tersimpan dalam wadah kayu seukuran kotak sepatu. Artefak ini, yang dinamai Mekanisme Antikythera, mematahkan asumsi tentang prestasi ilmiah dari peradaban masa awal. Piranti itu dijuluki “mekanisme paling canggih dari dunia kuno”. Piranti apakah itu? Dan, mengapa piranti itu sangat penting?



Benda Misterius

Sewaktu diangkat dari dasar laut, benda itu sudah sangat berkarat dan berkerak. Setelah hampir 2.000 tahun, bentuknya seperti batu karang berwarna kehijauan. Karena semua perhatian tertuju pada patung-patung, benda misterius ini tadinya tidak begitu dipedulikan.


Ketika seorang arkeolog Yunani memeriksa artefak itu pada tahun 1902, mekanisme tersebut terpecah-pecah. Ada roda-roda gigi dengan beragam ukuran, dan gigi-giginya yang berbentuk segitiga dibuat secara akurat. Piranti itu mirip seperti jam, tetapi karena mekanisme jam diyakini baru digunakan secara luas sekitar 700 tahun lalu, kemungkinan besar itu bukan jam.


Sebuah artikel tentang Mekanisme Antikythera menjelaskan bahwa “pada umumnya, para sejarawan tidak yakin bahwa orang Yunani yang hidup kira-kira 2.000 tahun lalu memiliki mekanisme roda gigi berakurasi tinggi – roda gigi yang dibuat dari logam dan disusun menjadi ‘rangkaian roda gigi’ yang rumit dan bisa meneruskan gerakan dari satu poros penggerak ke poros penggerak lainnya”. Meskipun demikian, piranti itu diduga sebagai sejenis astrolab, instrumen yang dahulu biasa digunakan untuk menentukan garis lintang berdasarkan posisi benda-benda langit.







Namun, banyak orang berpendapat bahwa melihat kerumitannya, mustahil roda-roda gigi tersebut berusia 2.000 tahun. Jadi, mereka menyimpulkan bahwa benda itu pasti tidak termasuk dalam muatan kapal kuno yang tenggelam tersebut. Di pihak lain, seorang pakar menduga bahwa benda itu kemungkinan adalah alat legendaries buatan Archimedes, yang diceritakan oleh Sisero pada abad pertama SM. Konon, alat itu adalah sejenis planetarium – sebuah miniatur yang bisa menirukan pergerakan matahari, bulan, dan lima planet yang terlihat oleh mata telanjang. Akan tetapi, karena tidak ada bukti yang jelas untuk mementahkan teori astrolab, teori itu diterima secara luas.







Diteliti Lebih Cermat

Pada tahun 1958, mekanisme itu diteliti oleh Derek de Solla Price, seorang fisikawan yang belakangan beralih menjadi professor di bidang sejarah sains. Ia berpendapat bahwa piranti itu bisa menentukan waktu terjadinya peristiwa astronomis di masa lalu atau di masa depan, misalnya bulan purnama berikutnya. Ia tahu bahwa tulisan pada piringannya menunjukkan pembagian kalender – hari, bulan, dan lambang zodiak. Menurutnya, di piringan itu tadinya pasti ada jarum yang bisa berputar yang menunjukkan posisi benda-benda langit pada waktu yang berlainan.


Price menyimpulkan bahwa roda gigi terbesar digunakan untuk menunjukkan pergerakan matahari dan satu kali rotasi memaksudkan satu tahun matahari. Jika roda gigi lainnya, yang terhubung dengan yang pertama, menunjukkan pergerakan bulan, maka rasio jumlah gigi pada kedua roda gigi tersebut pasti dirancang berdasarkan pandangan orang Yunani kuno tentang orbit bulan.


Pada tahun 1971, Price memindai mekanisme itu dengan sinar-X. Hasilnya meneguhkan teorinya. Piranti tersebut adalah kalkulator astronomis yang rumit. Price membuat gambar tentang perkiraan cara kerja mekanisme itu dan menerbitkan temuannya pada tahun 1974. Ia menulis, “Tidak ada piranti seperti ini yang terlestarikan di tempat lain manapun. Berdasarkan pengetahuan kita tentang sains dan teknologi pada Zaman Helenistik, kita tentu berpikir bahwa mustahil ada piranti seperti itu.” Kala itu, jerih payah Price tidak mendapat sambutan yang sepantasnya. Namun, orang lain melanjutkan riset yang ia lakukan.



Informasi Baru

Pada tahun 2005, tim yang terdiri dari para peneliti yang disebutkan di awal meneliti mekanisme itu dengan mesin CAT-scan yang canggih untuk mengahsilkan gambar sinar-X tiga dimensi beresolusi tinggi. Riset ini mengemukakan informasi baru tentang cara kerja mekanisme itu. Ketika si pengguna memutar kenopnya, setidaknya 30 roda gigi yang saling terhubung mengaktifkan tiga piringan di bagian depan dan belakang kotak. Ini memungkinkan si pengguna memprediksi siklus astronomis, termasuk gerhana, yang berkaitan dengan siklus empat tahunan Olimpiade dan pesta-pesta olahraga lain yang melibatkan seluruh Yunani. Pesta-pesta olahraga ini lazim digunakan sebagai dasar penananggalan.


Mengapa informasi demikian sangat penting? Ada beberapa alasan. Astronomi penting bagi orang zaman kuno karena petani menggunakan matahari dan bulan untuk menentukan saat menabur benih. Pelaut menggunakan bintang untuk memandu pelayaran. Lembaga-lembaga sosial Yunani sangat bergantung pada fenomena astronomis. Dan, masih ada alasan lain mengapa informasi demikian sangat berharga.


“Bagi orang Babilon kuno, memprediksi gerhana sangatlah penting, karena gerhana dianggap sebagai pertanda buruk,” tulis Martin Allen, anggota Proyek Riset Mekanisme Antikythera. “Bahkan, mekanisme tersebut bisa dianggap sebagai alat politis, yang memungkinkan kalangan berwenang menguasai rakyat mereka. Bahkan, diperkirakan bahwa salah satu alasan mengapa mekanisme itu begitu misterius adalah karena piranti itu dirahasiakan oleh pihak militer dan para politikus.”


Tidak soal keterangan lain yang kita dapat darinya, mekanisme tersebut membuktikan bahwa astronomi dan matematika orang Yunani kuno, yang sebagian besar diajarkan pada ajaran turun-temurun orang Babilon, jauh lebih maju daripada yang mungkin kita sangka. Majalah Nature menyatakannya sebagai berikut, “Mekanisme Antikythera kuno tidak hanya mematahkan asumsi kita tentang ahli teknologi selama berabad-abad – piranti itu memberikan kita informasi baru tentang sejarah itu sendiri.”







Siapa Pembuatnya?

Mekanisme Antikythera tidak mungkin hanya ada satu. “Tidak didapati kesalahan apa pun,” tulis Martin Allen. “Semua unsur mekanisnya ada kegunaannya. Tidak ada kelebihan lubang, ataupun unsur tak berguna lain yang memperlihatkan bahwa sang pembuat memodifikasi rancangannya pada saat mekanisme itu dibuat. Hal ini membuat kita berkesimpulan bahwa ia pasti sudah membuat sejumlah piranti serupa sebelumnya.” Jadi, siapa pembuatnya? Dan, apa yang terjadi dengan piranti lain yang dia buat?


Riset terkini mengenal mekanisme itu menunjukkan adanya nama-nama bulan pada piringan yang memprediksi gerhana. Nama-nama itu berasal dari Korintus, sehingga para peneliti berkesimpulan bahwa piranti itu dibuat dan digunakan oleh masyarakat dari latar kebudayaan tertentu. Majalah ilmiah Nature menyatakan, “Kemungkinan besar penggunanya adalah koloni orang Korintus di Yunani bagian barat laut atau Sirakuse di Sisilia – dan jika piranti itu digunakan di Sirakuse, hal ini menunjukkan bahwa piranti itu bisa jadi telah digunakan sejak zaman Archimedes.”


Mengapa tidak ada lagi piranti serupa yang terlestarikan? “Perunggu adalah komoditas yang sangat bernilai dan sangat mudah diproses ulang,” tulis Allen. “Akibatnya, benda perunggu dari zaman kuno jarang sekali ditemukan. Sebenarnya, banyak benda perunggu bersejarah yang penting ditemukan di dalam laut, tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang yang kemungkinan bakal meleburnya menjadi barang lain.” “Kami hanya punya contoh ini,” kata seorang peneliti, “karena benda ini tidak terjangkau orang-orang yang berniat menggunakan logamnya.”




Category: 2 komentar

Tanda Wajah, ‘Kartu Identitas’ Nigeria yang Hampir Lenyap




Pada suatu pagi di penghujung tahun 1960-an, Danjuma yang berusia enam tahun mendekati ayahnya dan berkeras agar wajahnya ditoreh seperti halnya warga Igala lain yang merasa bangga memilikinya. Danjuma tidak tahan lagi dengan ejekan teman-teman sekolahnya yang mencemoohnya karena tidak memiliki tanda wajah. Meskipun torehan-torehan itu biasanya dibuat pada bayi-bayi suku Igala yang masih terlalu kecil untuk merasa takut, anak-anak itu menganggap tanda itu sebagai bukti keberanian. Mereka menganggap anak-anak yang tidak memilikinya sebagai pengecut yang takut pada pisau.


Sebelumnya, ayah Danjuma menolak untuk menoreh wajah putranya. Tetapi pagi itu, karena desakan Danjuma yang bertekad membuktikan keberaniannya, sang ayah pun mengambil sebilah pisau dan membuat tiga torehan horizontal yang dalam di sebelah kiri dan kanan wajah Danjuma, sedikit di atas sudut mulutnya.


Ayah Danjuma tahu bahwa makna sesungguhnya dari torehan-torehan itu tidak ada sangkut-pautnya dengan keberanian. Sebaliknya, torehan-torehan itu akan sembuh dan menjadi tanda jati diri. Itu akan menjadi ‘kartu identitas’ permanen yang tidak bisa hilang atau dipalsukan. Itu akan membuat putranya mudah dikenali oleh para kerabat, sehingga memenuhi syarat untuk mendapatkan hak istimewa dan hak lain sebagai warga Igala. Tetapi, tanda itu juga akan membedakannya dengan lebih dari 250 kelompok etnik lain di Nigeria.


Praktek penorehan memiliki sejarah yang panjang di Afrika, meskipun tidak terbatas di benua ini saja. Sejarawan Yunani, Herodotus, menulis pada abad kelima SM tentang orang-orang Karia yang tinggal di Mesir, “Mereka menoreh dahi mereka dengan pisau, dengan demikian membuktikan bahwa mereka adalah orang asing dan bukan orang Mesir.” Patung-patung kepala dari perunggu yang dibuat di Ife, Nigeria, tujuh ratus tahun yang lalu memperlihatkan garis wajah yang oleh banyak orang dianggap sebagai tanda etnik. Tanda wajah juga tampak jelas pada pahatan dari Kerajaan Benin di Nigeria purba.


Tidak semua tanda wajah dibuat untuk jati diri etnik. Hingga sekarang, beberapa tanda masih ada kaitannya dengan spiritisme dan praktek-praktek agama. Ada yang menjadi simbol status dalam masyarakat tradisional. Namun, ada juga yang tujuannya untuk keindahan.


Tanda wajah, yang ditoreh oleh orang tertentu dalam komunitas, sangat bervariasi. Ada yang berupa torehan kecil di kulit, sedangkan yang lain-lain merupakan sayatan panjang dan dalam yang diperlebar dengan jari. Kadang-kadang, sumba alami dibubuhkan pada luka untuk mewarnai tanda itu. Setiap kelompok etnik memiliki pola sendiri yang unik. Misalnya, satu tanda vertikal pada setiap pipi mengidentifikasi pria dan wanita Ondo. Tiga tanda horizontal di setiap pipi mengidentifikasi orang-orang Oyo. Bagi orang-orang yang paham soal tanda-tanda ini, memandang wajah secara sekilas sudah cukup untuk mengetahui dari kelompok etnik, kota, atau bahkan keluarga mana ia berasal.






Sikap yang Berbeda-Beda

Sebagaimana tanda dan alasan mengapa itu diberikan sangat bervariasi, demikian pula cara orang menyikapinya. Banyak orang merasa bangga karena memilikinya. Seorang editor Daily Times dari Nigeria menyatakan, “Beberapa orang menganggap tanda wajah sebagai lambang patriotisme. Itu membuat mereka merasa seperti putra-putra sejati dari leluhur mereka.”


Seperti inilah pandangan Jimoh, seorang pria Nigeria, yang berkata, “Saya tidak pernah merasa malu dengan tanda Oyo saya, karena itu memperlihatkan bahwa saya benar-benar penduduk asli Yoruba dari kota Alafin.” Ia selanjutnya menceritakan bagaimana tanda-tanda itu menyelamatkan kehidupannya pada Perang Sipil Nigeri tahun 1967, “Rumah yang saya tempati diserbu dan semua penghuni yang lain dibunuh. Para pembunuh tidak melukai saya karena tanda wajah saya.”


Ada pula yang merasa sangat kesal akan tanda wajah. Tajudeen berkata tentang tanda wajahnya, “Saya benci tanda itu, terkutuklah hari ketika wajah saya ditoreh.” Dan, seorang gadis remaja memuji ibunya karena tidak mengizinkan dia dioperasi sewaktu kecil. Ia berkata, “Saya akan bunuh diri seandainya saya sampai diberikan tanda wajah.”






Menghadapi Pengejek

Danjuma, yang disebutkan dalam pembukaan, diejek karena ia tidak memiliki tanda. Yang biasanya terjadi adalah justru kebalikannya. Lebih dari 45 tahun yang lalu, G. T. Basden menulis dalam bukunya Niger Ibos, “Menoreh dan menato mulai ketinggalan zaman. Banyak pria muda akan senang bila terbebas dari tanda mereka. Tanda yang menjadi kebanggaan di antara kaumnya sendiri, menjadi bahan celaan, karena ejekan dan hinaan yang dialaminya di tempat-tempat lain di negeri itu.”


Itulah yang terjadi dewasa ini. Ajai, yang meraih gelar sarjana psikologi di Universitas Lagos, meneliti tanda wajah di Nigeria. Ia mengamati, “Pada zaman sekarang, setidak-tidaknya di Lagos, orang-orang dengan tanda wajah merupakan kaum minoritas dan menjadi sasaran ejekan. Misalnya, bukan hal yang aneh bila seseorang dipanggil kolonel, bukan karena ia seorang tentara melainkan karena jumlah garis di pipinya sama dengan jumlah garis seragam seorang kolonel dalam Angkatan Bersenjata. Beberapa orang dijuluki macan karena pipi mereka yang berbelang-belang atau ada juga yang dijuluki air mata abadi. Bayangkan apa pengaruhnya terhadap harga diri orang tersebut.”


Barangkali, cobaan terberat adalah di sekolah. Samuel adalah satu-satunya anak di kelas yang memiliki tanda wajah. Ia bercerita, “Di sekolah, saya sering ditertawakan. Teman-teman memanggil saya ‘jalur kereta api’ dan ‘anak lelaki berjalur kereta api’. Mereka selalu menertawakan saya dan mengacungkan tiga jari. Saya benar-benar merasa lebih rendah.”


Bagaimana ia menghadapinya? Samuel melanjutkan, “Suatu hari, olok-olok itu begitu hebatnya sehingga saya menghadap guru biologi saya dan menanyakan kapadanya apakah tanda itu dapat dihilangkan. Ia memberi tahu saya bahwa hal itu bisa dilakukan dengan bedah plastik, tetapi sebenarnya saya tidak perlu resah karena toh ada banyak ribuan orang di Nigeria yang memiliki tanda wajah. Ia mengatakan bahwa teman-teman sabaya saya menertawakan saya karena mereka belum dewasa, tetapi sewaktu kelak kami dewasa, semua olok-olokan itu akan berhenti dengan sendirinya. Ia juga mengatakan bahwa tanda itu tidak menentukan siapa diri saya sesungguhnya atau jadi apa saya nantinya.


“Kata-katanya membuat saya merasa lebih lega, dan perasaan yang tidak enak tadinya saya miliki tentang tanda itu pun lenyap. Sekarang, orang-orang sudah jarang mengejek tanda wajah saya. Kalau pun mereka mengejek, saya hanya tersenyum. Hubungan saya dengan orang-orang lain tidak menjadi rusak. Orang-orang merespek diri saya apa adanya, bukan karena tanda yang saya miliki.



Tradisi yang Hampir Lenyap

Karena tanda biasanya dibuat pada remaja, kebanyakan orang Nigeria yang memiliki tanda etnik di wajahnya tidak punya pilihan lain dalam hal ini. Akan tetapi, sewaktu mereka menjadi orang tua, mereka harus memutuskan apakah mereka akan memberi anak-anak mereka tanda.


Beberapa orang memutuskan untuk melakukan hal itu. Menurut Times International dari Lagos, ada beberapa alasan di balik keputusan ini. Majalah tersebut menyatakan, “Beberapa orang masih menganggapnya sebagai tanda kecantikan. Yang lain-lain percaya bahwa tanda suku dapat membantu menemukan asal-usul sang pengguna demi alasan favoritisme. Penggunaan lain adalah dalam menentukan keabsahan seorang anak dalam masyarakat tradisional.”


Akan tetapi, sekarang, semakin banyak orang tua yang menganggap alasan-alasan ini tidak berlaku. Bahkan di antara orang-orang yang bangga dengan tanda mereka, relatif sedikit yang mau mengambil resiko menoreh wajah anak-anak mereka. Inilah yang terutama terjadi di perkotaan. Rasa nyeri dan resiko infeksi, serta cemooh dan diskriminasi yang mungkin dihadapi sang anak dalam hidupnya kelak, semuanya merupakan faktor-faktor yang menyebabkan orang tua menolak pemberian tanda wajah.


Jelaslah, tanda wajah semakin tidak populer dan tidak diterima. Tampaknya bahwa kelak di Nigeria, “kartu identitas” akan dibawa orang dalam dompetnya, bukan lagi di wajah mereka.




Category: 2 komentar

Baikal, Danau Terdalam di Dunia






Selama berabad-abad, suku-suku Mongol di daerah terpencil yang sekarang dikenal sebagai Siberia bagian selatan telah memandang danau ini dengan penuh hormat. Meskipun sejumlah danau lebih luas permukaannya, danau ini tetap merupakan danau air tawar yang terdalam dan sekaligus mempunyai volume air yang terbanyak di dunia. Salah satu namanya yang digunakan hingga sekarang ialah Baikal, yang konon berarti “Danau yang Kaya” atau “Laut”. Malah, karena danau ini “begitu besar dan bisa bergelora” para awak kapal di pantainya kadang-kadang suka mengatakan “pergi melaut”.


Jika nama Danau Baikal disebut, hati orang Rusia akan tergetar. Seorang ilmuwan dari Moskwa menyebutnya “Sebuah musik indah yang dipelajari setiap orang semasa kanak-kanak.” “Nadanya” banyak – pantainya yang memesona, airnya yang luar biasa jernih, dan gabungan aneka jenis makhluk unik yang tidak terdapat di tempat lain mana pun.


Dari angkasa, Danau Baikal – yang panjangnya sekitar 636 kilometer dan lebar terbesarnya 80 kilometer – tampak seperti sebuah mata biru yang separuh terbuka. Di sini terdapat seperlima dari semua air tawar di bumi, lebih banyak daripada semua air di kelima Danau Besar di Amerika Utara jika digabungkan! Danau Baikal mempunyai kedalaman lebih dari 1.600 meter. Andaikan danau itu mendadak kering, untuk dapat mengisinya kembali diperlukan debit air dari semua sungai di dunia yang mengalir sepanjang tahun!



Pergeseran Benua

Menurut teori para geolog, di bumi pada zaman purba, sebuah sub benua bergeser ke arah utara dan bertubrukan dengan Asia. Dampaknya, banyak lapisan tanah keras berkerut bagai kertas aluminium dan permukaan bumi pun terdorong ke atas sehingga membentuk pegunungan Himalaya. Ada yang beranggapan bahwa tubrukan benua ini telah menimbulkan sejumlah celah yang dalam di Siberia. Salah satu di antaranya sekarang dikenal sebagai Celah Baikal. Seraya waktu berlalu, tanah yang hanyut dari gunung-gunung di sekitarnya memenuhi celah dengan sekitar tujuh kilometer endapan lumpur. Celah itu dipenuhi air, sehingga terbentuklah Danau Baikal. Kini, ada lebih dari 300 sungai besar dan kecil yang mengalir ke danau itu, tetapi hanya satu, yaitu Sungai Angara, yang mengalir ke luar.


Tidak seperti kebanyakan danau zaman purba, Danau Baikal tidak dipenuhi lumpur atau berubah menjadi rawa-rawa. Menurut para ilmuwan alasannya adalah karena lempeng tektonik yang aktid di bawah danau masih bergerak dan memperlebar celah itu. Jadi, bukannya lama-kelamaan dipenuhi lumpur, danau itu malah semakin dalam setiap tahun! Lempeng-lempeng yang aktif ini juga menyebabkan kolom-kolom air panas memancar dari dasar danau.



Sekilas tentang Isi Danau Baikal

Beberapa orang yang naik kapal melintasi tengah-tengah Danau Baikal merasa takut karena airnya sangat bening sehingga mereka dapat melihat dengan jelas hingga kedalaman 50 meter! Komunitas krustasea yang sangat kecil yang disebut epischura (mencakup hewan-hewan yang cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang karang, teritip, dsb), berperan sebagai filter dan menyaring lumut dan bakteri yang membuat banyak danau keruh airnya. Selain itu, mereka juga dibantu oleh banyak sekali udang sungai yang memenuhi danau, memakan sisa-sisa organik yang bisa membusuk. Karena itu, airnya begitu murni, sehingga sewaktu sampel air yang diambil untuk diperiksa di laboratorium justru terkontaminasi oleh gelas penampungnya!


Selain terkenal akan kebeningannya, air Danau Baikal ini sangat kaya dengan oksigen. Beberapa danau yang dalam kekurangan oksigen pada kedalaman tertentu, sehingga kebanyakan makhluk airnya harus hidup di tempat-tempat yang lebih dekat ke permukaan. Namun, di Danau Baikal, arus vertikal dan horizontalnya membawa oksigen ke bagian danau yang paling dalam dan mencampurnya secara merata. Alhasil, ada kehidupan di seluruh bagian danau.


Hutan bawah air tumbuh subur di air yang dingin dan bersih. Bunga karang hijau, yang bercabang-cabang seperti koral, menyediakan perlindungan bagi sejumlah besar makhluk air yang kecil. Banyak organisme yang senang dengan suhu panas bergerombol di sekitar lubang-lubang hidrotermal danau itu. Di antara lebih dari 2.000 jenis makhluk air yang ada di danau, 1.500 jenis hanya terdapat di tempat ini.


Danau Baikal terkenal dengan ikan omul, ikan putih yang enak yang sangat dicari oleh para nelayan. Beberapa makhluk hidup lainnya tidak lazim, bahkan aneh. Sejenis cacing pipih besarnya bisa sampai 30 sentimeter dan memakan ikan. Ada juga organisme satu sel yang hidup di antara butir-butir pasir! Danau ini juga menarik karena golomyanka – ikan yang hanya terdapat di Baikal. Boleh jadi inilah ikan yang paling aneh di sini.


Golomyanka yang kecil mempunyai tubuh setengah bening dengan warna-warni yang berkilauan. Ikan ini hidup dekat dasar danau dan berkembang biak dengan melahirkan anak. Sepertiga tubuhnya berisi lemak, kaya dengan vitamin A. Ia dapat menahan tekanan di kedalaman antara 200 hingga 450 meter; namun jika terpapar sinar matahari, tubuhnya mencair, hanya tinggal tulang dan lemaknya. Golomyanka adalah makanan kesukaan penghuni Danau Baikal yang tersohor – nerpa, atau anjing laut Baikal. Inilah satu-satunya jenis anjing laut yang hanya hidup di air tawar.


Danau Baikal dihuni oleh puluhan ribu nerpa, atau anjing laut Baikal, yang sepanjang tahun mendapatkan makanannya dari ikan yang hidup di danau yang dalam itu. Tidak ada yang tahu pasti mengapa nerpa bisa ada di jantung Siberia dan tidak di tempat lain. Kerabat terdekatnya hidup di tempat yang jauhnya 3.200 kilometer.


Nerpa mempunyai mata yang sangat besar, letaknya saling berdekatan pada mukanya yang datar, dan merupakan anjing laut terkecil di dunia; ukuran tubuhnya dapat mencapai 1,4 meter. Mereka sering dijumpai di atas batu besar sedang berjemur dalam kelompok-kelompok yang damai, tanpa saling menggigit dan mendorong yang menjadi karakteristik kebanyakan anjing laut. Sebenarnya, nerpa adalah anjing laut yang paling jinak di bumi.


Seorang biolog anjing laut mengamati bahwa nerpa “bahkan lebih lembut daripada anjing laut bercincin, membiarkan dirinya dipegang tanpa menggigit sewaktu ditangkap dengan jala untuk penyelidikan ilmiah”. Sebuah karya referensi menyebut tentang para penyelam yang berenang dekat nerpa yang sedang tidur dalam air. Mereka melaporkan bahwa anjing-anjing laut itu tidak terbangun meskipun dipegang atau bahkan sewaktu tubuhnya dibalik-balik.






Perubahan Musim

Selama lima bulan dalam setahun, Danau Baikal ditutupi es. Menjelang akhir bulan Januari, tebal es bisa sampai satu meter atau lebih. Bentuknya bisa seperti garis-garis dari sebuah mosaik dan jika kena sinar matahari berkilauan seperti kaca jendela. Orang salah mengira bahwa lapisan es itu tipis – begitu bening sehingga orang yang berjalan di atasnya dapat melihat bebatuan di dasar danau. Sebenarnya, es itu luar biasa kuat. Satu abad yang lampau, sewaktu musim dingin pada perang Rusia-Jepang, pasukan Rusia memasang rel kereta api melintasi es dan berhasil mengangkut 65 lokomotif melewatinya!

Dari akhir bulan April sampai Juni, es mulai pecah dengan suara gemeretak yang bergemuruh. Suaranya yang terus-menerus terdengar dari danau menghasilkan “musik es” musiman yang akrab di telinga penduduk setempat. Pecinta alam bernama Gerald Durrell menulis bahwa es itu “berdenting seperti simbal-simbal kecil dan mendengkur seperti kucing-kucing dalam keranjang”. Tak lama kemudian, seraya udara makin panas, angin dan gelombang mengempaskan es itu dan mendorongnya menjadi tumpukan yang berkilauan di pantai.





Seraya air danau terlihat kembali, burung-burung pun berdatangan lagi. Beberapa burung penghuni Danau Baikal, seperti burung celup, tetap tinggal sepanjang musim dingin di hulu Sungai Angara, satu-satunya bagian danau yang tidak pernah membeku. Sekarang mereka berbaur dengan burung air lainnya – seperti bebek, soang, angsa pekik, dan burung cangak.


Para pengunjung danau pada bulan Juni dapat melihat keluarga-keluarga beruang bergerak ke tepian untuk memakan larva lalat yang menetas dan berkeriapan di bebatuan. Beruang-beruang itu asyik menjilati serangga itu dengan lidahnya, tanpa mengindahkan dengungan serangga-serangga itu. Banyak binatang dan burung datang ke pantai pada waktu ini karena tertarik oleh jamuan makan yang limpah di tepi danau.


Pada awal musim semi dan musim panas, untuk waktu yang singkat danau ditumbuhi lumut, yang menjadi makanan bagi krustasea kecil dan membuat air tampak kehijauan. Namun, biasanya, kalau dilihat dari pantai, air Danau Baikal berwarna biru hijau dan bagian tengah danau berwarna biru tua, seperti warna lautan.


Di garis pantai terdapat bukit-bukit pasir dan tebing terjal yang megah. Ada banyak teluk dan tanjung dengan pemandangan yang memesona yang dilukiskan oleh seorang penulis bagaikan “angkasa yang lembut bak mutiara dalam jarak yang terus berubah” – pemandangan air dan langit yang silih berganti.


Menjelang akhir tahun, danau sering dilanda badai. Musim gugur mendatangkan angin yang kadang-kadang dengan ganas berembus ke danau seperti puting beliung. Angin tersebut dapat dengan cepat mengubah permukaan danau yang tenang menjadi gelombang-gelombang ganas, yang mencapai ketinggian 4 hingga 6 meter. Malah pada bulan-bulan tertentu, ada jenis angin yang bisa menenggelamkan kapal-kapal penumpang dan perahu nelayan.



Daerah yang Kaya Pemandangan Alam

Alam Siberia yang tidak bersahabat mungkin membuat Danau Baikal tampak seperti raksasa dingin yang suka menyendiri, padahal kenyataannya danau itu ramai dengan margasatwa dan beraneka pemandangan alam. Keempat jajaran pegunungan megah yang mengelilingi danau merupakan habitat rusa dan kambing gunung Siberia yang terancam punah.


Pada ketinggian yang lebih rendah terdapat stepa. Sebagian dari dataran berumput ini dapat dikatakan sebagai kebun bunga Siberia karena di sana tumbuh bunga liar yang sangat banyak ragamnya. Di antara spesies burung langka di stepa ini adalah burung jenjang ratu yang cantik dan burung bustar, burung terbesar di Asia.





Hal lain yang penting bagi Danau Baikal adalah taiga, hutan cemara yang lebat yang mengelilinginya. Hutan taiga dua kali lebih luas daripada hutan hujan Amazon di Brasil. Seperti hutan hujan Brasil, hutan taiga memainkan peranan yang sangat penting dalam memelihara ekologi dan iklim dunia. Sejumlah spesies burung hidup di sini, termasuk capercaillie, sejenis ayam hutan, yang menampilkan pertunjukan masa kawin serta kicauan yang menakjubkan. Itik Baikal yang elegan, juga sering datang ke danau.








Ada jenis mamalia yang patut diperhatikan, yaitu martes pedang Barguzin. Dahulu, binatang ini diburu habis-habisan untuk mendapatkan bulunya yang berkilat, tetapi sekarang jumlah martes ini sudah mulai bertambah, berkat bantuan para konsevasionis. Pada tahun 1916, dalam upaya menyelamatkan makhluk yang indah ini, didirikanlah Cagar Alam Barguzin yang terletak di tepi Danau Baikal. Sekarang, terdapat tiga cagar alam di sekitar tepi danau serta tiga taman nasional yang terbuka untuk umum.



Category: 1 komentar

Karang Penghalang Belize, Kawasan Warisan Dunia





Sistem Cagar Karang-Penghalang Belize dicantumkan sebagai sebuah kawasan Warisan Dunia pada tahun 1996. Dengan demikian, kawasan itu diberi status yang sama dengan Machu Picchu di Peru, Grand Canyon di Amerika Serikat, dan keajaiban-keajaiban lainnya di seluruh dunia. Apa yang membuat kawasan ini memiliki “nilai universal yang luar biasa”?



Warisan yang Layak Dilestarikan

Karang Penghalang Belize adalah kumpulan karang, atau koral hidup terbesar di dunia, setelah Karang Penghalang Besar Australia, dan merupakan yang terpanjang di Belahan Bumi Barat. Panjangnya 300 kilometer sejajar dengan Semenanjung Yucatan, termasuk sebagian besar pantai negeri Amerika Tengah, Belize. Selain karang penghalang itu – yang sebenarnya sebuah rangkaian karang – cagar itu mencakup kira-kira 450 pulau kecil, dan tiga buah atoll, yakni pulau karang berbentuk cincin yang di tengah-tengahnya terdapat laguna yang indah. Tujuh area laut di cagar ala mini, yang luas seluruhnya 960 kilometer persegi, secara khusus dilindungi dalam Konvensi Warisan Dunia.








Alasan mengapa penting melestarikan terumbu karang ialah karena di sanalah tempat tinggal seperempat flora dan fauna laut di bumi. Sebenarnya, dalam hal keanekaragaman hayati, ekosistem terumbu karang menempati urutan kedua setelah hutan hujan tropis. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa 70 persen dari semua koral di planet ini akan musnah dalam kurun waktu 20 hingga 40 tahun mendatang, kecuali manusia menghentikan berbagai polusi di laut, turisme yang tidak terkendali, dan praktek-praktek yang merusak, seperti penangkapan ikan dengan racun sianida.


Ada 70 spesies koral keras, 36 spesies koral lunak, dan 500 spesies ikan yang telah diidentifikasi di Sistem Cagar Karang-Penghalang Belize. Tempat ini merupakan habitat bagi binatang laut yang terancam punah, seperti penyu Bromo, penyu hijau, dan penyu paruh gagak, serta manati dan buaya Amerika. Sewaktu mengomentari keanekaragaman binatang laut yang menakjubkan di kawasan ini, peneliti terumbu karang bernama Julianne Robinson mengatakan, “Sistem Cagar Karang-Penghalang Belize menawarkan kesempatan unik baik bagi para peneliti maupun para pengunjung. Ini adalah salah satu dari sedikit tempat di mana anda dapat mengamati alam dalam kondisi aslinya yang terbaik, namun yang tidak luput dari ancaman kerusakan.”


Mungkin ancaman terbesar bagi sistem karang Belize adalah pemutihan koral, manakala koral-koral yang berwarna-warni menjadi putih pucat. National Geographic News melaporkan bahwa bersamaan dengan Badai Mitch, peristiwa pemutihan dalam skala besar terjadi pada tahun 1997 dan 1998 yang menyebabkan berkurangnya tutupan koral hidup sebesar 48 persen. Apa yang menyebabkan kerusakan ini? Meskipun penelitian masih berlangsung, Melanie McField, pakar terumbu karang, mengatakan, “Pemutihan koral ini agaknya berkaitan erat dengan meningkatnya suhu laut. Sinar ultraviolet juga menimbulkan pemutihan, dan gabungan keduanya mengakibatkan pemutihan terparah.” Namun, untunglah, karang Belize perlahan-lahan tampak pulih kembali.*



Surga Bawah Air

Perairan yang bersih di gugusan karang Belize, yang rata-rata suhunya 26 derajat Celcius, sangat menyenangkan bagi para penyelam dan perenang snorkel. Namun, masih ada 90 persen dari karang itu yang harus dijelajahi. Karang itu hanya beberapa ratus meter dari San Pedro di Pulau Ambergris dan lebih mudah dijangkau dari sana. Enam kilometer di sebelah tenggara San Pedro terdapat Cagar Laut Hol Chan, sebuah taman laut yang dangkal seluas delapan kilometer persegi berbentuk terowongan karang.





Salah satu tempat menakjubkan di bumi untuk menyelam adalah Blue Hole, area Warisan Dunia yang dilindungi dalam sistem cagar itu, yang berlokasi sekitar 100 kilometer dari daratan utama Belize di Karang Lighthouse. Tempat ini menjadi termahsyur oleh oseanolog Perancis bernama Jacques-Yves Cousteau, selama ekspedisinya pada tahun 1970 dengan kapal riset Calypso. Blue Hole yang terletak di laut yang berwarna biru kehijauan merupakan lubang karang berwarna biru tua, yang pinggirnya dikelilingi oleh karang hidup. Lubang ini berdiameter sekitar 300 meter dan berkedalaman lebih dari 120 meter. Sebelum permukaan air laut naik, lubang ini tadinya adalah sebuah gua bawah laut yang kering, yang atapnya belakangan runtuh. Dindingnya turun agak lurus ke bawah hingga kedalaman sekitar 35 meter; mulai dari situ formasi stalagtit yang besar-besar tergantung ke bawah dari tebingnya. Panorama bawah air ini sangat menakjubkan, dengan jarak pandang hingga 60 meter. Tidak banyak binatang laut dalam lubang ini selain ikan hiu. Para penyelam scuba harus berhati-hati, karena penyelaman di sini sangat beresiko, dan ini hendaknya jangan dicoba oleh penyelam yang belum berpengalaman. Namun, para perenang snorkel dapat menikmati pemandangan koral yang sangat indah di sekeliling lubang ini dalam air yang sejernih kristal.





Tidak jauh dari sini terdapat daerah lain dari ketujuh area Warisan Dunia, Half Moon Cay, sebuah pulau tenang yang menjadi suaka bagi burung sula-sula berkaki merah yang langka. Ada 98 spesies burung lain yang telah diamati menghuni tempat ini. Menyelam di sepanjang Half Moon Cay Wall, yang ditutupi koral lunak yang indah dan masuk ke kedalaman 1.000 meter, sungguh spektakuler.



Half Moon Cay



Melalui kunjungan yang singkat ke Karang Penghalang Belize, kita melihat bahwa ada alasan yang kuat untuk melestarikan harta ini agar dapat dikagumi oleh generasi-generasi mendatang. Jika sampai lenyap, hal itu akan benar-benar merupakan “hal yang merugikan dan mencelakakan bagi warisan semua bangsa”.













*Mungkin tidak banyak yang dapat dilakukan masyarakat setempat mengenai pemanasan global yang menyebabkan naiknya suhu air laut, namun berkat status sistem karang ini sebagai Warisan Dunia, orang-orang Belize terdorong untuk menjadi lebih aktif melindungi kawasan ini.



Category: 5 komentar

Ayo, Ikut ke Pulau Man!

Dimana kita bisa melihat ikan hiu berjemur? Salah satu tempat terbaik adalah di lepas pantai Pulau Man, di Laut Irlandia. Para pelancong berlayar dari Pulau Man – jaraknya kira-kira sama dengan Inggris, Irlandia, Skotlandia, dan Wales – untuk menonton ikan-ikan yang lembut berbobot 5 ton ini menyantap plankton, satu-satunya makanan mereka. Menurut Bill Dale, seorang pecinta alam lokal, tempat ini adalah “lokasi yang sempurna untuk wisata alam.”


Seperti apakah Pulau Man itu? Pulau seluas 570 kilometer persegi dengan lembah-lembah hijau, padang-padang semak berwarna cokelat, danau-danau dan sungai-sungai kecil, teluk-teluk yang indah, tebing-tebing, dan garis pantai yang berkelok-kelok ini dihuni oleh sekitar 70.000 orang.






Apa yang Memikat Para Turis?

Para pengunjung Pulau Man yang bersejarah ini sering mencari kucing Manx. Binatang aneh ini mukanya seperti kucing biasa, tetapi kaki belakangnya agak lebih panjang daripada kaki depannya, sehingga perawakannya sekilas mirip terwelu. Selain itu, kucing Manx tidak mempunyai ekor. Meskipun asal-usul kucing Manx ini tidak jelas, konon berabad-abad yang lalu para pelaut membawa anak-anak kucing dari Asia, tempat adanya kucing-kucing yang tidak berekor, sehingga muncullah jenis kucing yang ada di pulau ini.





Balap sepeda motor Piala Turis Pulau Man, yang diadakan setiap tahun, juga menarik wisatawan. Arena balapnya adalah jalan-jalan utama sepanjang lebih dari 60 kilometer. Pada lomba balap pertama, yang diadakan pada tahun 1907, kecepatan tertinggi rata-rata kurang dari 65 kilometer per jam. Sekarang, kecepatan rata-rata untuk menang lebih dari 190 kilometer per jam. Olahraga ini jelas berbahaya dan dari tahun ke tahun telah menewaskan banyak pembalap.


Trem-trem yang ditarik kuda di sepanjang promenade (tempat untuk berjalan-jalan) di Douglas, ibu kota pulau itu, mengingatkan orang akan masa silam yang indah, demikian pula jalur kereta api uap Pulau Man yang hanya tinggal 24 kilometer dari seluruh jalur rel sempit yang semula melintasi pulau itu. Lebih dari 100 tahun yang lalu, Perusahaan Kereta Api Listrik Manx dibuka, dan beberapa gerbong keretanya sampai sekarang masih mendaki setinggi 600 meter lebih ke Snaefell, puncak tertinggi Pulau Man.






Kincir Laxey Besar

Timah hitam, perak, dan seng banyak berperan dalam perkembangan pulau ini, terutama di Pertambangan Laxwy besar. Kincir Laxey Bexar merupakan peninggalan yang megah, yang mengingatkan orang pada keahlian para insinyur zaman Victoria yang membangunnya pada tahun 1854 dan kepada perancangnya, Robert Casement, putra seorang tukang kincir lokal. Garis tengah kincir ini lebih dari 20 meter dan digerakkan oleh air dari sebuah kolam penampung yang ada di lembah jauh di atas. Sewaktu kincir itu berputar dua setengah kali per menit, 950 liter air terangkat dari kedalaman 360 meter, sehingga lubang tambang tidak tergenang air. Engkolnya, yang terpasang pada rangkaian batang-batang yang panjangnya sekitar 180 meter, menggerakkan sistem pemompaan air dalam tambang itu. Poros kincir besar ini saja beratnya sepuluh ton.


Di ujung selatan rumah kincir itu terpampang gambar Kaki Tiga Pulau Man yang bergaris tengah dua meter dan terbuat dari besi tuang. Bagaimana asal-usul dan makna Kaki Tiga ini, yang sekarang menjadi lambang Pulau Man?


Setelah tahun 1246, sebagai lambang resmi pulau itu, gambar Kaki Tiga Pulau Man tertera pada meterai yang biasa dibubuhkan pada piagam. Desain yang sama ditemukan pada sebuah vas Yunani dari abad keenam SM dan dikaitkan dengan salib Yunani, atau swastika. Menurut anggapan umum, lambang itu menggambarkan berkas-berkas sinar matahari dan dikaitkan dengan penyembuhan matahari. Bagaimana lambang ini bisa sampai di Pulau Man? Diperkirakan asalnya dari Mediterania melalui perdagangan dengan Sisilia – pulau yang juga menggunakan lambang itu – atau dari koin-koin orang Norwegia kuno, atau orang Viking. Lambang berupa tiga tungkai bersepatu bot besi, seperti yang terlihat sekarang, digunakan oleh raja-raja Pulau Man yang berkuasa di kemudian hari.







Masa Lalu yang Pasang Surut

Orang Romawi menaklukkan Inggris pada tahun 43 M dan menetap selama kira-kira 400 tahun, tetapi mereka tampaknya mengabaikan Pulau Man, yang oleh Julius Caesar dinamai Mona. Orang Norwegia kuno menyerbu pada abad ke-9, dan menetap hingga pertengahan abad ke-13. Para penjelajah yang gagah berani dari Skandinavia itu menganggap pulau itu cocok dijadikan pangkalan untuk perdangangan dan untuk penyerangan ke negeri-negeri tetangga. Pada masa itu, terbentuklah Tynwald, parlemen Manx, yang dianggap sebagai parlemen nasional tertua di dunia yang terus ada sampai sekarang.*


Kemudian, selama masa yang berbeda-beda, Pulau Man diperintah oleh Skotlandia, Wales, Irlandia, Inggris, dan Norwegia. Lalu, pada tahun 1765, Parlemen Inggris membeli pulau itu. Sekarang, gubernurnya menjadi wakil pribadi Ratu Inggris, karena pulau itu di bawah pengawasan Kerajaan Inggris dengan otonomi sendiri, serta memiliki kemerdekaan sampai taraf tertentu sampai pusat keuangan lepas pantai. Pulau ini juga mencetak perangko sendiri dan mempunyai uang logam serta uang kertas sendiri, yang nilai tukarnya sebanding dengan mata uang Inggris.



Bahasa Manx – Kaitannya dengan Bahasa Kelt

Bahasa kuno Pulau Man adalah Manx, yaitu bagian dari kelompok Bahasa Kelt yang asalnya dari rumpun bahasa Indo-Eropa yang sangat besar. Bahasa Manx adalah cabang Bahasa Gael Irlandia dan berkerabat dengan bahasa Gael Skotlandia. Lebih dari 100 tahun yang lalu, tentang bahasa Manx dikatakan, “Bahasa ini pasti akan lenyap – bagaikan gunung es yang mengapung ke selatan.” Dan, memang benar. Penduduk asli terakhir yang menggunakan bahasa Manx meninggal pada tahun 1974, pada usia 97 tahun; tetapi, sebagai bagian dari warisan budaya pulau itu, bahasa Manx sekarang diajarkan lagi di sekolah-sekolah.


Tidak seperti bahasa Gael Irlandia atau Gael Skotlandia, sampai tahun 1610 bahasa Manx hanyalah bahasa lisan. Pada tahun 1707, The Principles and Duties of Christianity menjadi buku pertama yang dicetak dalam bahasa Manx, yang kemudian disusul dengan buku-buku lain.









* Sebelum itu sudah ada dua parlemen lain, yaitu Logting di Faeroe dan Alting di Islandia, tetapi keduanya sudah bubar.



Category: 4 komentar